-->

situs resmi covid-19

News

Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Video

Nasional

Pariwisata

Life & style

Musik & Film

Profile

Model & Fashion



» » » » » BALI MENGENAL KEADAAN ISOLASI SEJAK DAHULU

a
Simbol tradisional sampai alat pencegahan modern

GATRADEWATA NEWS | BALI | Penolak Bala ala Bali merupakan hal yang sudah dilakukan secara turun menurun, dengan upacara sekala besar, medium seperti Upacara Nangluk Merana di Upacara Nangluk Merana dan Mepekelem di Pura Mas Ceti Ulun Tanjung Petitenget, bertepatan dengan Purnama Kesanga, Senin (9/3) waktu yang lalu. Dari skala rumah kita mengenal sarana yang digunakan terdiri dari rangkaian cabai, bawang merah, bawang putih, yang ditusuk menggunakan semat (lidi yg terbuat dari bambu), diikatkan daun pandan duri 3 batang, pamor (kapur), dan diikat dengan benang tridatu (benang wol berwarna merah, putih dan hitam), dan diletakkan pada depan rumah.

Sarana itu bukan semata-mata bersifat klenik atau gaib, tetapi kepada pengetahuan yang berdasarkan kearifan dan pengetahuan yang luar biasa tentang cara menyikapi kondisi luar untuk psikologis, kesehatan bahkan menyikapi kondisi wabah seperti COVID-19 pada saat ini. COVID-19 yang saat ini melanda bumi ini membuat panik dan membutuhkan cara penanganan dengan mengisolasi diri adalah kondisi yang berulang sebetulnya bila kita melihat tata cara di Bali menggunakannya sebagai penangkal marabahaya atau penolak Bala ini.

Cabai

CABAI/CABE, biasanya ini unsur yang paling atas sebagai tanda warna merah yang artinya warning (peringatan), panik, dan membutuhkan ketenangan. Cabai ini memiliki unsur yang pedas dan orang kepedasan pasti bingung, sikap inilah mencerminkan simbol itu, dan juga cabai memiliki nutrisi yang bermanfaat untuk kesehatan, termasuk protein, karbohidrat, gula, serat, lemak, vitamin A, vitamin B6, vitamin C, zat besi, magnesium, kalium, air dan capsaicin. Manfaatnya cukup banyak kandungan yang menenangkan (penghilang strees), Meningkatkan Imunitas, meredakan nyeri dan flu, sampai penelitian tentang pemakan cabai memiliki umur yang lebih panjang.

Bawang merah

BAWANG MERAH, dikutip dari tulisan Pebrianto Eko Wicaksono pada 23 Mar 2020, 14:07 WIB di m.liputan6.com
yang menuliskan bahwa cara melawan virus adalah dengan menaruh bawang yang telah dikupas kulitnya pada mangkuk yang bisa menarik bakteri dan virus, dan setiap hari bila sudah menghitam (di cek di laboratorium bahwa bawang telah banyak mengandung bakteri dan virus yang in-aktif / mati). Cara ini efektif melawan virus tanpa perlu dimakan secara langsung. Menyangkut bawang merah ini juga digunakan oleh orang Bali sebagai racikan sambel menemani hidangan lauk pauk yaitu sambel matah (sambel dengan irisan bawang mentah yang tidak dimasak, atau dituang minyak panas saja diolah dengan cabe dicampur sedikit garam dan terasi). Bawang merah juga mengandung vitamin C, kalium, serat, dan asam folat. Selain itu, bawang merah juga mengandung kalsium dan zat besi. Bawang merah juga mengandung zat pengatur tumbuh alami berupa hormon auksin dan giberelin, flavonoid yang diandalkan dalam mengusir banyak jenis penyakit yang terkandung di dalam bawang merah juga dapat meningkatkan produksi insulin bagi penderita diabetes, meningkatkan daya imunitas, dan masih banyak lagi manfaat yang dimiliki dan dapat di cari di google lebih lengkap lagi. Karena sifat perlindungannya inilah digunakan sebagai simbol sekaligus bagian dari penolak bala yaitu wabah penyakit.

Bawang putih

BAWANG PUTIH, lain halnya dengan bawang putih, yang kita tahu bawang putih ini masih saudara dengan bawang merah yang secara khasihat mungkin mirip, dari meningkatkan imunitas karena mengandung antioksidan, dan bawang putih dan merah tidak boleh dicampur meletakannya karena mereka masing-masing mengeluarkan gas yang mengakibatkan mudah busuknya bawang itu, seperti kisah bawang merah dan bawang putih yang tidak oernah akur itu. Simbol itu adalah pelengkap dari bawang merah sebagai sarana penolak bala.

Pamor / kapur sirih (tanpa daun sirih)

PAMOR (KAPUR SIRIH), atau biasa disebut Kalsium hidroksida (kalium Oksida + air (H2O)), kalo pernah dengar nyirih (menguyah dun sirih dengan pamor dan lainnya) yang biasa dilakukan orang tua dulu yang mampu menggantikan kebiasaan merokok ini ternyata mengandung alkalin tinggi ( PH11-12,5), yang sifatnya adalah mikrobial atau membunuh bakteri atau kuman di dalam rongga mulut (nyirih). dari sifatnya yang basa kuat ini mampu membuat bakteri tempat hidup virus bisa in-aktif. Lambang yang seperti tanda tambah (tapak dara) adalah juga bukan merupakan tanda anti serangan gaib, tetapi simbol kehati-hatian karena dirumah ini atau lokasi ini terdapat mara bahaya atau sesuatu yang kurang baik bila kita masuk entah bersifat mengganggu atau kita yang bisa terluka, ini dilihat dari tanda tambah yang artinya marabahaya bisa datang dari mana saja.

Daun pandan duri

PANDAN DURI, Menandakan larangan untuk memasuki area yang biasanya bila dia 3 lembar artinya hanya boleh dimasuki, keluarga dekat (ayah, ibu, mertua, adik, atau kakak) biasanya digunakan untuk bayi yang baru lahir, lapisan yang ke dua untuk keluarga jauh, dan yang ketiga adalah untuk teman dekat, jadi kondisi area itu tidak untuk umum. Daun yang berduri ini juga dipasang saat ayam hendak bertelur, sebagai tanda bahaya bisa datang dari mana saja, dari gerakan ayam yang sensitif menyerang atau kejatuhan sesuatu yang bahaya buat kita disekitaran kandang ayam.

Benang tridatu (merah, putih, hitam)

Benang Tridatu, adalah sifat kita lahir-hidup-mati yang dimaksud dari ini adalah kita yang sudah mencoba mencegah dari bala atau mara bahaya, tapi sejatinya kita tidak lupa bahwa manusia secara alamai akan tetap mengalami lahir dan hidup yang artinya akan mengalami sifat alamiahnya yaitu mati.

Dr. Suwardi Sukri (sumber foto : minanews.net)

Bincang sehat dengan dr. Suwardi Sukri (Dokter Integratif Medicine) yang dikutip dari minanews.net (19/03), disitu ditulis bahwa Covid-19 dikatakan para ahli adalah mutan dari SARS Coronavirus atau strain ke-2 SARS Coronavirus. Yang jelas baik SARS Coronavirus dan Covid-19 , mereka masih dalam satu keluarga. Tropisma adalah sifat virus yang menyukai jaringan tertentu sebagai tempat masuknya. Pada jaringan yang disukai ini ada reseptor, sebagai tempat menempelnya virus. Contoh, virus Polio lebih suka menempel di jaringan saraf, virus HIV lebih suka menempel di CD 4 sel imun Sel T, virus Hepatitis B lebih nyaman menempel pada reseptor albumin pada sel hati. Coronavirus reseptor masuknya pada saluran pernapasan. Dijelaskan juga struktur virus yang lengkap hanya terdiri asam nukleat yang dilapisi oleh lapisan protein yang disebut kapsid. Virus tidak memiliki membran, seperti sel layaknya. Berdasakan struktur asam nukleat-nya, maka virus dibagi atas dua, virus DNA dan virus RNA.

Virus RNA diterangkan disana bahwa Bakteri yang memiliki asam nukleat yang terdiri dari DNA dan RNA, virus hanya memiliki salah satunya DNA atau RNA. Corona virus termasuk virus RNA. Mengapa kita perlu mengetahui hal ini? Ini untuk keperluan pemahaman kita bahwa virus itu adalah mahluk cerdas dan merusak. Tetapi mereka tidak bisa memperbanyak diri tanpa bantuan sel inang. Semua bahan yang dibutuhkan untuk mereka membelah, meraka ambil dari sel inang. Dengan cara mensabotase kode-kode gen sel inang. Bila jenis virus DNA memperbanyak diri di dalam inti sel inangnya. Sementara virus RNA membelah di sitoplasma sel inangnya itu merupakan perbedaan dari keduanya.

Gambar virus secara struktur

Ditulis secara lengkap disana bahwa Virus (latin = racun), dan Virus sebetulnya lemah bila mereka tidak mendapatkan inang atau tempat dia hidup dan membelah sel, dan mereka akan tidak aktif bila terpapar sinar matahari dan disinfektan seperti alkhohol dan handsanitizer. Cara Sel Virus menginfeksi sel Inang adalah ketika Virus Corona masuk pada saluran napas (jaringan yang disukai), dia akan menempel pada reseptor (molekul protein) sel inang. Lalu virus ini secara endotosis yaitu dia masuk dengan membuat celah pada membran sel. Masuklah Virus itu kedalam sel tepatnya di dalam sitoplasma sel. Dengan berada disana saat inilah asam nukleat virus aktif menyandi produksi enzim yang mereka butuhkan. Karena virus tidak memiliki enzim untuk  membuat protein dan energi.


Disisi lain ada semangat dan harapan baru walaupun bencana melanda dituturkan oleh Sutarno (53) warga Mangunsuko kecamatan Dukun dengan bencana gunung merapi meletus ini lebih besar dari sebelumnya.

"Suarane nggih ageng kolo wau (suaranya juga besar tadi)," katanya.

Dari peristiwa itu malah Sutarno justru berharap erupsi dengan disertai hujan abu ini, bisa membunuh virus corona yang saat ini merebak.

"Nggih niki pangarepane tiang dusun, mugi udan awu saged kagem mbasmi corona (ya ini harapan orang desa, hujan abu bisa membunuh virus Corona," harap Sutarno. Sisi spiritual orang Indonesia juga menjawab fenomena besar yang melanda dunia ini ditambah lagi meletusnya gunung Merapi. (Ray)


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post